Jumat, 22 Juli 2016

Bunda, Masa Kecil Anakmu hanya Sekali. Jangan Kau Sia-Siakan..!!

Bunda, Masa Kecil Anakmu Hanya Sekali, Jangan Kau Sia-siakan Kesempatan Emas Ini.

Bunda, Masa Kecil Anakmu Hanya Sekali, Jangan Kau Sia-siakan!!


Para ahli psikologi anak selalu bilang: lima tahun pertama adalah masa emas bagi seorang anak.

Ya, Tahun-tahun emas. Ibu saya selalu mengingatkan dulu ketika mereka (putra-putri saya) masih kecil, bahkan sampai sekarangpun masih tetap mengingatkan saya: Masa kecil mereka tak akan terulang dua kali.

Benar sekali. Waktu yang pergi tak akan kembali, masa kecil yang berlalu tak mungkin diulang.

Seberapa pentingkah masa emas ini?

Setelah si kecil menghirup udara dan dunia pada detik-detik pertama hidupnya, sejak saat itulah ia mulai belajar dari pahit getirnya dunia.

Tarikan nafas pertama memperkenalkannya dengan kebutuhan dasar, yaitu 'Bernafas'.

Para pakar menganjurkan pada detik-detik pertama tersebut si kecil segera diperkenalkan pada bunda, ibu, atau umminya. Maka bayi merah yang bahkan masih licin tersebutpun diletakkan di atas dada bunda, ibu, ummi yang sedang sumringah bahagia. Itulah saat Tatapan pertama antara keduanya.

Apa yang kita lihat pada dirinya wahai Bunda ?

Banggakah kita? Kecewakah? Kebencian kah?
Sadarkah kita, kesan pertama ini seringkali mewarnai sikap kita padanya dan akan berbalas dengan sikapnya pada kita.

Apapun juga, ukirlah rasa syukur dalam dada kita pada menit-menit pertama ini.

Syukur karena masa kritis sudah berlalu bagi kita dan syukur karena Allah SWT telah Menghadiahkan kita amanah baru ini. Bangga karena kita telah diberi kepercayaan oleh-Nya. Tutuplah syukur kita dengan doa harapan untuk masa depan kita.

“Bersyukurlah, niscaya Allah Akan Menambahkan Nikmat-Nya padamu.”

Hari-hari berikut tetap penting baginya. Senyum pertamanya, sakit pertamanya, ocehan pertamanya, makanan pertamanya, jatuh pertamanya, langkah pertamanya, semua yang pertama baginya. Baik dan buruk, senang dan susah.

Tahukah kita, bahwa semua pengalamannya akan ia rujuk pada kita?

Apakah kita senang jika ia mengigit kita (ketika menyusuinya)?

Ia akan menatap kita untuk mencari tahu apa reaksi kita.

Apakah kita senang jika ia mempermainkan kucing atau mempermainkan yang lainnya (apapun itu)?

Ia akan menunggu reaksi kita.

Apa pendapat kita jika ia naik tangga?

Kitalah rujukan pertamanya…. dan bagimana kita menterjemahkan padanya dunia ini.

Apakah dunia ini tempat penuh optimisme, atau keluh kesah?

Apakah dunia ini berbahaya atau penuh tantangan?

Ia akan mencari kita ketika ia jatuh luka. Tangisannya keras sekali demi menarik perhatian kita segera. Dan ketika kita akhirnya datang juga menghibur dirinya dan mengobati lukanya, ia akan senantiasa mengingat bagaimana reaksi kita melihat penderitaannya.

Apakah kita menyalahkan, atau berempati?…

Bunda, semua itu menjadi rujukan baginya untuk bersikap terhadap dunia dan segala isinya.

Kitalah guru pertamanya di dunia ini!

Mungkin kita tidak sadar seberapa besar peran kita bagi kepribadiannya. Karena kita terkadang sibuk mencuci, menyetrika, memasak….dan seribu satu pekerjaan rumah lainnya. Maka kita sikapi anak kita dengan seadanya.

Jika sempat, kita tanggapi dengan senyum optimis, jika tidak, maka kita malah membentak dia ketika bermain dengan piring yang sedang kita cuci. Astaghfirullah, betapa beratnya untuk selalu sadar peran, disaat tugas menumpuk, badan penat, kepala berat, sejuta lagi alasan.

Bunda, itu sebabnya kita perlu selalu bertaubat (Istighfar), sebab terlalu banyak saat kita tidak memenuhi panggilan tugas dengan semestinya. Tugas seorang bunda ibu, ummi, pendidik generasi yang akan datang, tugas yang harus dijalankan 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Tanpa cuti.

Bagaimana pula kita tanggapi protesnya ketika kits akan meninggalkan dia?

Kantor sudah menunggu, boss bukan orang yang murah hati, sementara si kecil rewel “tanpa alasan”.

Benarkah jika ia tidak sakit maka ia tak boleh protes ketika kita akan pergi?

Apakah itu “tanpa alasan”?

Ia punya sejuta alasan untuk meminta kita tetap mendampinginya…

Kita punya seribu alasan untuk boleh meninggalkannya. Kita memang harus punya alasan yang TEPAT dan SYAR’I untuk meninggalkan balita kita.

Ketika kita pergi, dengan siapakah ia kita titipkan?

Baby sitter?

Kakek Nenek?

Bibi atau tempat penitipan anak?…

Apapun pilihan kita, bertanggung-jawablah. Artinya, ajukanlah seribu pertanyaan mengapa kita meninggalkannya? kepada siapa dan dengan persiapan apa?

Tanyakan itu semua pada diri kita sendiri dan jawablah untuk diri kita sendiri. Janganlah kita meninggalkannya hanya karena “sayang karirku jika berhenti sekarang”, atau “sayang dong otakku jika aku hanya tinggal di rumah”, atau “aku kan butuh uang tambahan”.

Teringat pesan ibu saya, beliau berkata: “masa kecil mereka hanya sekali”.

Dan saya masih  mengingat pesan itu hari ini, empat tahun setelah itu. Saat saya menitipkan anak di sebuah pondok pesantren dengan dan atas pilihan hatinya, terbayang masa kecilnya dan pertanyaan di kepala: apakah saya sudah mendidiknya dengan benar sehingga ia sudah bisa meninggalkan rumah ini untuk menjalani kehidupan sendiri (mandiri). Sudah cukupkah bekal yang saya berikan padanya untuk menghadapi hidup jauh dari rumah, jauh dari kedua orangtuanya, jauh dari saudara saudarinya?

Hari demi hari berlalu, masa kecilnya semakin jauh dibelakang. Hari demi hari berlalu kita semakin sadar betapa banyak yang belum kita lakukan untuknya. Tapi waktu tak pernah menunggu, tugas terus bertumpuk dan badan tak bertambah gesit.

Sampai datang masanya kita terhentak dan tersadar betapa cepatnya waktu telah berganti.

Bersiaplah untuk di evaluasi olehnya, belasan tahun atau puluhan tahun setelah hari pertamanya bersama kita, atas segala perlakuan yang telah kita berikan padanya.

Belasan tahun ataupun puluhan tahun dari hari ini, ia bukan lagi makhluk kecil yang tak berdaya. Belasan tahun ataupun puluhan tahun setelah hari ini mungkin kitalah yang sudah tak berdaya dan berharap tidak ditinggalkan sendirian di rumah karena badan ini sudah renta.

Apakah Dzat Yang Maha Agung akan mengampuni?
Apakah Dia akan Menyayangi para orangtua?
Lalu bagaimana jika saat sang putra masih kecil orangtuanya kurang sayang padanya?
Akankah Allah juga akan mengurangi kasih sayang-Nya pada orangtua tersebut?

Alangkah beruntungnya orangtua yang anaknya cinta pada Allah, niscaya anak shaleh akan senantiasa mendoakan ibu-bapaknya.

Semoga Allah SWT memasukan kita kedalam golongan orangtua yang beruntung, yang mempunyai putra-putri yang mencintai Rabb-Nya… Aamiin Ya Rabbal 'alamin.

Sumber: kabarmakkah.com